Dilema Cost-Benefit Analysis: Menyeimbangkan Sosial dan Ekonomi

Pak Suci Rahman menatap layar laptopnya. Studi kelayakan RS X tak kunjung rampung. Pemerintah ingin proyek ini meningkatkan akses kesehatan bagi masyarakat, sementara investor swasta menuntut keuntungan yang pasti.

Di ruang rapat, Dr. Anita Suci, ekonom sosial, berargumen bahwa rumah sakit harus tetap terjangkau bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. “Ini investasi jangka panjang. Dengan layanan kesehatan yang lebih baik, produktivitas tenaga kerja meningkat,” katanya.

Namun, Pak Ketam, analis keuangan, berpendapat sebaliknya. “Tanpa profit yang jelas, investor akan mundur. Biaya operasional rumah sakit ini sangat tinggi,” ujarnya tegas. Pak Suci Rahman duduk di tengah perdebatan itu, mencari solusi. Malamnya, ia menelaah ulang Cost-Benefit Analysis (CBA) mereka. Ia menemukan jalan tengah: hybrid model. Layanan kelas premium bagi pasien asing dan masyarakat atas akan menjadi sumber pendapatan, sementara sebagian keuntungan digunakan untuk menyubsidi pasien lokal.

Keesokan harinya, ia memaparkan ide itu. Semua pihak akhirnya setuju. Beberapa tahun kemudian, RS X resmi berdiri, melayani berbagai kalangan. Saat peresmian, Pak Suci tersenyum. Menyeimbangkan kepentingan sosial dan ekonomi bukan hal yang mustahil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *