Pengalaman sebagai konsultan pendamping standar akreditasi untuk Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)

Saya masih ingat betul aroma disinfektan yang begitu menyengat ketika pertama kali masuk ke ruang isolasi Rumah Sakit Harapan Sehat. Mereka baru saja melewati masa berat lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan atas. Dan kini, mereka bersiap menghadapi akreditasi. Saya diminta mendampingi, khususnya pada bab yang sangat krusial: Pencegahan dan Pengendalian Infeksi, atau yang biasa kami sebut PPI.

Saat bertemu dengan tim PPI rumah sakit, saya langsung merasakan kelelahan yang mendalam. Mereka bukan tim yang malas atau tidak kompeten. Justru sebaliknya—mereka terlalu terbebani. Kepala tim PPI berkata dengan suara lelah, “Bu, kami sudah coba bangun budaya cuci tangan. Tapi staf masih menganggap ini sekadar formalitas. Kalau saya tidak awasi, mereka lupa lagi.” Matanya tampak seperti menyimpan seribu cerita perjuangan.

Saya memulai pendampingan dengan observasi. Di IGD, saya melihat hal yang umum terjadi: APD dipakai, tapi tidak dilepas sesuai alur. Petugas bersalaman dengan keluarga pasien sebelum mengganti sarung tangan. Di ICU, saya melihat wastafel untuk cuci tangan berada di balik rak linen—secara teknis ada, tapi secara fungsional nyaris tidak terpakai.

Saya sadar saat itu: masalah PPI di sini bukan pada SOP-nya. Bukan pula pada ketersediaan sarana. Masalahnya ada pada mindset.

Saya memutuskan untuk mengubah strategi. Saya kumpulkan perawat, dokter, tenaga kebersihan, hingga petugas keamanan dalam satu forum kecil. Kami mulai bukan dari angka, tapi dari kisah. Saya ceritakan bagaimana di salah satu rumah sakit, seorang bayi meninggal karena infeksi silang yang berpangkal dari tangan tenaga medis yang tidak bersih. Di ruangan itu, saya lihat beberapa orang tertunduk. Lalu, seorang cleaning service yang biasanya diam, angkat tangan dan berkata, “Bu, kalau saya yang lupa pakai masker, bisa bahaya juga ya?” Itulah titik baliknya.

Kami mulai membentuk kembali tim surveillance internal. Bukan hanya dari tim PPI, tapi perwakilan dari semua lini. Kami buat sistem pelaporan insiden infeksi yang sederhana, cepat, dan tanpa menyalahkan. Saya dampingi mereka membuat audit hand hygiene bukan sebagai compliance check, tapi sebagai ruang diskusi. Kami pasang poster edukasi yang tidak menakut-nakuti, tapi menyentuh: “Tanganmu bisa menyelamatkan nyawa.”

Tentu, tidak semua berjalan mulus. Ada masa di mana seorang dokter menolak dicatat dalam audit karena merasa “tidak perlu diawasi seperti anak kecil.” Saya ingat harus duduk berdua dengannya, menjelaskan bahwa ini bukan soal dia, tapi soal sistem. Saya katakan, “Dokter yang baik bukan yang tidak pernah diawasi, tapi yang terbuka untuk diperbaiki.” Butuh waktu, tapi akhirnya dia mau jadi role model dalam kampanye cuci tangan.

Tiga minggu sebelum survei, kami adakan simulasi outbreak response. Tim bergerak cepat, alur karantina pasien berjalan sesuai rencana, APD digunakan dengan benar, dan pelaporan dilakukan dalam 30 menit. Di akhir simulasi, kepala ruang isolasi memeluk saya sambil berkata, “Saya baru kali ini merasa kami benar-benar siap menghadapi infeksi, bukan hanya siap untuk akreditasi.”

Hari H pun tiba. Saat surveior mengunjungi ruang bedah dan bertanya tentang alur limbah infeksius, petugas sanitasi menjelaskan sambil menunjukkan checklist harian yang ia buat sendiri, tanpa ada naskah hafalan. Surveior tersenyum, dan saya tahu—kami tidak hanya berhasil memenuhi standar. Kami telah menanam budaya.

Saya melangkah keluar ruang rapat akhir sambil mengingat satu hal penting: PPI bukan tentang alat, bukan tentang poster, bukan tentang SOP. Ia tentang nyawa. Dan tugas saya sebagai konsultan, adalah menjaga agar semangat itu tetap menyala, bahkan setelah survei selesai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *