Saya masih ingat satu pengalaman ketika membimbing sebuah rumah sakit kecil di daerah untuk persiapan akreditasi. Tim mutu mereka hanya terdiri dari dua orang perawat, satu staf administrasi, dan kepala instalasi yang merangkap semua. Ketika saya datang sebagai konsultan, mereka langsung berkata, “Pak, dokumennya mana? Kami tinggal isi saja ya?”
Saya tersenyum. Bukan karena geli, tapi karena ini adalah cermin dari pola lama yang sering terjadi: akreditasi dipahami sebagai sekadar ‘mengisi dokumen’, bukan membangun sistem mutu yang hidup.
Saya bilang, “Kita tidak akan mulai dari dokumen. Kita mulai dari cerita kalian. Ceritakan bagaimana proses kerja kalian sebenarnya.”
Mereka mulai bercerita—tentang bagaimana pasien gawat darurat masuk, bagaimana farmasi sering telat karena gudang di gedung lain, bagaimana bidan di IGD harus merangkap jaga di ruang bersalin. Dari cerita itu, kami mulai menyusun alur, membuat flowchart, mengidentifikasi risiko, dan akhirnya menyusun SPO.
Tiap SPO yang kami buat bukan sekadar salinan dari rumah sakit lain. Tapi lahir dari proses dialog: “Kalau pasien datang malam-malam, siapa yang pertama kali tahu?” “Kalau obat habis, siapa yang nyari alternatif?”
Lambat laun mereka sadar: akreditasi bukan tentang tumpukan dokumen, tapi tentang menyadari proses kerja mereka, mengatur ulang, dan membuatnya bisa dipertanggungjawabkan.
Di akhir proses, kepala instalasi berkata, “Ternyata kita bisa ya bikin sendiri, asal ada yang bantu mikir.”
Dan buat saya, di situlah letak peran konsultan akreditasi yang sesungguhnya: bukan menyuruh, tapi membimbing; bukan mengarahkan dari menara gading, tapi turun ke lapangan, duduk bersama, dan menulis bersama.
Karena mutu sejati tidak lahir dari formulir, tapi dari pemahaman, kepemilikan, dan perubahan cara kerja.