Untuk memberikan gambaran praktis mengenai penyusunan unit cost rumah sakit, berikut disajikan simulasi sederhana perhitungan unit cost pada layanan poliklinik spesialis. Simulasi ini bertujuan menunjukkan bagaimana seluruh biaya operasional dikumpulkan, kemudian dibagi dengan jumlah output layanan sehingga diperoleh biaya riil per pasien.
Misalnya sebuah rumah sakit swasta memiliki satu poliklinik spesialis penyakit dalam yang beroperasi selama satu bulan. Dalam periode tersebut, jumlah kunjungan pasien tercatat sebanyak 1.200 pasien. Untuk mengetahui apakah tarif konsultasi yang berlaku saat ini sudah wajar, manajemen perlu menghitung total biaya yang dikeluarkan poliklinik tersebut.
Komponen biaya pertama adalah biaya tenaga kerja. Dokter spesialis memperoleh jasa medis dan retainer sebesar Rp90.000.000 per bulan. Perawat dan tenaga administrasi poliklinik menerima total gaji sebesar Rp35.000.000 per bulan. Dengan demikian total biaya SDM menjadi Rp125.000.000.
Komponen berikutnya adalah biaya bahan medis habis pakai, seperti sarung tangan, masker, alat tulis medis, formulir, dan perlengkapan pelayanan pasien. Total biaya untuk komponen ini sebesar Rp12.000.000 per bulan.
Selanjutnya terdapat biaya utilitas dan operasional ruangan, yang terdiri dari listrik, air, pendingin ruangan, internet, serta kebersihan area poliklinik. Total biaya komponen ini sebesar Rp18.000.000 per bulan.
Rumah sakit juga harus memperhitungkan biaya penyusutan aset. Nilai penyusutan peralatan medis, furniture, komputer, dan renovasi ruang poliklinik dihitung sebesar Rp15.000.000 per bulan.
Selain itu, terdapat biaya overhead manajemen yang dialokasikan dari unit pendukung seperti HRD, keuangan, IT, keamanan, dan manajemen umum. Alokasi biaya ini sebesar Rp20.000.000 per bulan.
Dengan demikian, total biaya operasional poliklinik dalam satu bulan adalah sebagai berikut:
Komponen Biaya Nilai (Rp)
Dokter spesialis 90.000.000
Perawat & administrasi 35.000.000
Bahan medis habis pakai 12.000.000
Utilitas & kebersihan 18.000.000
Penyusutan alat & ruangan 15.000.000
Overhead manajemen 20.000.000
Total Biaya Bulanan 190.000.000
Karena jumlah kunjungan pasien selama satu bulan adalah 1.200 pasien, maka unit cost per kunjungan dihitung dengan membagi total biaya dengan jumlah pasien.
Unit Cost = Rp190.000.000 ÷ 1.200 = Rp158.333
Artinya, biaya riil rumah sakit untuk melayani satu pasien di poliklinik tersebut adalah sekitar Rp158.000 per kunjungan.
Apabila rumah sakit ingin memperoleh margin usaha sebesar 25 persen, maka tarif minimal dapat dihitung sebagai berikut:
Tarif = Unit Cost + 25%
Tarif = Rp158.333 + Rp39.583 = Rp197.916
Tarif dapat dibulatkan menjadi Rp200.000 per kunjungan.
Jika rumah sakit menetapkan tarif Rp150.000, maka layanan tersebut berpotensi merugi karena berada di bawah unit cost. Sebaliknya, jika tarif ditetapkan Rp250.000, maka rumah sakit memperoleh margin lebih besar, selama masih sesuai dengan daya beli pasar dan kualitas layanan yang diberikan.
Simulasi ini menunjukkan bahwa penetapan tarif sebaiknya tidak dilakukan berdasarkan perkiraan atau mengikuti pesaing semata, tetapi harus didasarkan pada perhitungan unit cost yang jelas. Dengan metode ini, manajemen rumah sakit dapat mengetahui layanan mana yang sehat secara finansial, mana yang perlu efisiensi, dan mana yang memerlukan penyesuaian tarif.
Bagi rumah sakit baru, simulasi seperti ini sangat penting karena volume pasien yang masih rendah dapat membuat unit cost menjadi lebih tinggi. Ketika jumlah kunjungan meningkat, biaya tetap akan terbagi ke lebih banyak pasien sehingga unit cost menurun dan profitabilitas menjadi lebih baik. Oleh sebab itu, penghitungan unit cost harus dilakukan secara berkala sebagai alat pengambilan keputusan manajerial.