Profitability Index dalam Feasibility Study Keuangan Rumah Sakit

Memahami Seberapa Besar Nilai yang Dihasilkan dari Setiap Rupiah Investasi

Dalam penyusunan Feasibility Study (FS) pembangunan atau pengembangan rumah sakit, investor biasanya ingin mengetahui satu hal yang sangat sederhana:

«“Kalau saya menginvestasikan uang sebesar ini, sebenarnya seberapa besar nilai yang akan saya dapatkan kembali?”»

Pertanyaan tersebut tidak cukup dijawab hanya dengan melihat laba bersih rumah sakit. Sebuah rumah sakit bisa menghasilkan laba yang terlihat besar, tetapi membutuhkan investasi yang jauh lebih besar. Sebaliknya, rumah sakit dengan laba yang relatif lebih kecil mungkin membutuhkan investasi yang juga jauh lebih kecil.

Karena itu, dalam analisis investasi kita perlu melihat perbandingan antara nilai yang dihasilkan dengan modal yang ditanamkan.

Salah satu indikator yang dapat digunakan adalah Profitability Index atau PI.

Apa Itu Profitability Index?

Profitability Index adalah indikator yang digunakan untuk melihat perbandingan antara nilai sekarang dari arus kas bersih yang akan dihasilkan oleh investasi dengan nilai investasi awal.

Bahasa sederhananya:

«Profitability Index menunjukkan berapa besar nilai sekarang yang dihasilkan untuk setiap Rp1 yang kita investasikan.»

Misalnya sebuah rumah sakit membutuhkan investasi sebesar Rp100 miliar.

Setelah dilakukan proyeksi keuangan, nilai sekarang dari seluruh arus kas bersih yang akan dihasilkan selama periode analisis adalah Rp125 miliar.

Maka Profitability Index adalah:

Rp125 miliar ÷ Rp100 miliar = 1,25

Artinya, secara sederhana:

«Setiap Rp1 yang diinvestasikan diproyeksikan menghasilkan Rp1,25 nilai sekarang dari arus kas bersih selama periode investasi.»

Angka Rp1,25 tersebut bukan berarti investor menerima keuntungan Rp0,25 setiap tahun. Ini adalah perbandingan nilai sekarang dari seluruh arus kas yang diproyeksikan dengan investasi awal.

Hal ini penting karena PI sering disalahartikan sebagai persentase keuntungan tahunan.

Mengapa Profitability Index Penting untuk Investasi Rumah Sakit?

Investasi rumah sakit biasanya membutuhkan modal yang sangat besar.

Investor harus menyediakan dana untuk berbagai kebutuhan, mulai dari tanah, bangunan, alat kesehatan, sistem informasi, furniture, kendaraan, perizinan, biaya persiapan operasional, sampai modal kerja awal.

Di sisi lain, rumah sakit tidak selalu langsung menghasilkan pendapatan maksimal sejak hari pertama.

Pada tahun-tahun awal, rumah sakit biasanya masih membangun pasar. Jumlah pasien masih berkembang, dokter mulai membangun praktik, layanan baru diperkenalkan, utilisasi tempat tidur meningkat secara bertahap, dan kerja sama dengan BPJS, perusahaan, maupun asuransi mungkin masih dikembangkan.

Karena itu, investor perlu mengetahui bukan hanya berapa besar keuntungan rumah sakit, tetapi juga:

«“Apakah nilai yang dihasilkan rumah sakit sebanding dengan modal yang saya keluarkan?”»

Profitability Index membantu menjawab pertanyaan tersebut.

Bagaimana Cara Menghitung Profitability Index?

Rumus sederhananya adalah:

PI = Present Value Arus Kas Bersih Masa Depan ÷ Investasi Awal

Artinya, kita terlebih dahulu menghitung nilai sekarang atau Present Value (PV) dari arus kas yang diperkirakan akan diterima pada tahun-tahun mendatang.

Mengapa harus dihitung nilai sekarang?

Karena Rp10 miliar yang diterima hari ini tidak memiliki nilai ekonomi yang sama dengan Rp10 miliar yang baru diterima 10 tahun lagi.

Uang yang diterima hari ini dapat digunakan untuk investasi, membayar kewajiban, atau menghasilkan keuntungan lainnya.

Inilah yang disebut Time Value of Money atau nilai waktu uang.

Karena itu, dalam perhitungan PI, arus kas masa depan harus didiskontokan menggunakan tingkat diskonto yang sesuai.

Dalam FS rumah sakit, tingkat diskonto dapat menggunakan pendekatan WACC (Weighted Average Cost of Capital) apabila arus kas yang digunakan memang merupakan arus kas yang sesuai dengan pendekatan tersebut.

Contoh Sederhana Investasi Rumah Sakit

Misalnya sebuah proyek pembangunan rumah sakit membutuhkan investasi awal sebesar:

Rp200 miliar.

Setelah seluruh proyeksi pendapatan, biaya operasional, investasi tambahan, dan arus kas selama periode analisis dihitung, diperoleh nilai sekarang arus kas bersih sebesar:

Rp250 miliar.

Maka:

PI = Rp250 miliar ÷ Rp200 miliar

PI = 1,25

Cara menjelaskannya kepada owner atau investor yang tidak memiliki latar belakang keuangan cukup sederhana:

«“Bapak/Ibu, berdasarkan proyeksi keuangan, setiap Rp1 yang ditanamkan dalam investasi rumah sakit diperkirakan menghasilkan Rp1,25 nilai sekarang dari arus kas bersih selama periode analisis.”»

Dengan kata lain, investasi tersebut menghasilkan nilai sekarang arus kas yang lebih besar dibandingkan modal awal.

Bagaimana Membaca Angka PI?

Secara sederhana, jika PI lebih besar dari 1, berarti nilai sekarang dari arus kas bersih yang diproyeksikan lebih besar daripada investasi awal.

Jika PI sama dengan 1, berarti nilai sekarang arus kas bersih kurang lebih sama dengan investasi awal.

Jika PI kurang dari 1, berarti nilai sekarang arus kas bersih lebih kecil daripada investasi awal.

Sebagai contoh, PI sebesar 1,30 berarti setiap Rp1 investasi menghasilkan Rp1,30 nilai sekarang dari arus kas bersih.

Sedangkan PI sebesar 0,80 berarti setiap Rp1 investasi hanya menghasilkan Rp0,80 nilai sekarang dari arus kas bersih.

Dalam konteks analisis investasi, PI di atas 1 menunjukkan bahwa proyek menghasilkan nilai sekarang arus kas yang melebihi investasi awal, dengan asumsi arus kas dan tingkat diskonto yang digunakan konsisten.

Apa Hubungan PI dengan NPV?

Profitability Index memiliki hubungan yang sangat erat dengan Net Present Value (NPV).

NPV menjawab:

«“Berapa nilai tambah yang dihasilkan oleh investasi ini dalam rupiah?”»

Sedangkan PI menjawab:

«“Berapa nilai sekarang yang dihasilkan dibandingkan dengan setiap rupiah investasi?”»

Misalnya investasi rumah sakit sebesar Rp200 miliar dan nilai sekarang arus kas bersih sebesar Rp250 miliar.

Maka NPV:

Rp250 miliar – Rp200 miliar = Rp50 miliar.

Sedangkan PI:

Rp250 miliar ÷ Rp200 miliar = 1,25.

Jadi NPV mengatakan bahwa proyek menghasilkan nilai tambah sebesar Rp50 miliar.

Sementara PI mengatakan bahwa setiap Rp1 investasi menghasilkan Rp1,25 nilai sekarang arus kas bersih.

Dengan demikian, keduanya sebenarnya melihat proyek dari sudut yang berbeda.

Apa Bedanya PI dengan IRR?

Ini juga sering menjadi pertanyaan dalam FS.

IRR atau Internal Rate of Return menunjukkan tingkat pengembalian internal suatu investasi berdasarkan pola arus kas proyek.

Misalnya hasil FS menunjukkan:

IRR = 14%.

Artinya, berdasarkan pola arus kas yang diproyeksikan, investasi tersebut mempunyai tingkat pengembalian internal sebesar sekitar 14%.

Sementara apabila:

PI = 1,25, maka artinya setiap Rp1 investasi menghasilkan Rp1,25 nilai sekarang dari arus kas bersih.

Jadi cara paling mudah membedakannya adalah:

«IRR berbicara tentang tingkat pengembalian.»

Sedangkan:

«PI berbicara tentang perbandingan nilai yang dihasilkan dengan modal yang ditanamkan.»

Karena itu, PI dan IRR tidak seharusnya dianggap sebagai dua indikator yang sama.

Apa Bedanya PI dengan ARR?

Perbedaan PI dengan ARR atau Accounting Rate of Return juga cukup penting.

ARR menggunakan laba akuntansi sebagai dasar perhitungan.

Sedangkan PI menggunakan arus kas yang didiskontokan.

Contohnya, rumah sakit memiliki laba bersih Rp20 miliar per tahun. Angka tersebut dapat digunakan dalam menghitung ARR.

Namun, laba bersih tidak selalu sama dengan cash flow karena di dalam laporan laba rugi terdapat komponen non-cash seperti depresiasi.

PI lebih fokus pada arus kas yang relevan untuk analisis investasi.

Jadi secara sederhana:

«ARR melihat return dari perspektif laba akuntansi.»

«PI melihat perbandingan nilai sekarang arus kas dengan investasi.»

Bagaimana Hubungan PI dengan Payback Period?

Payback Period menjawab:

«“Berapa tahun sampai modal investasi kembali?”»

Misalnya hasil analisis menunjukkan Payback Period 8 tahun.

Artinya, secara nominal investasi diperkirakan kembali dalam waktu sekitar 8 tahun.

PI memiliki pertanyaan yang berbeda:

«“Berapa nilai sekarang dari arus kas yang dihasilkan dibandingkan dengan modal awal?”»

Karena itu, Payback Period dan PI dapat digunakan bersama.

Payback memberikan informasi tentang kecepatan pengembalian modal, sedangkan PI memberikan informasi mengenai nilai relatif yang dihasilkan oleh investasi.

Mengapa Discount Rate Sangat Penting dalam PI?

Salah satu hal penting dalam PI adalah discount rate.

Misalnya sebuah rumah sakit diproyeksikan menghasilkan cash flow besar 10 tahun dari sekarang.

Jika menggunakan discount rate yang lebih tinggi, nilai sekarang dari cash flow tersebut akan menjadi lebih kecil.

Sebaliknya, jika discount rate lebih rendah, nilai sekarang dari cash flow tersebut menjadi lebih besar.

Akibatnya, perubahan discount rate dapat mengubah nilai PI.

Inilah sebabnya mengapa dalam FS rumah sakit, penggunaan WACC atau discount rate harus memiliki dasar yang jelas.

Investor perlu mengetahui:

«“Mengapa digunakan discount rate sebesar angka tersebut?”»

Karena perbedaan discount rate dapat menghasilkan perbedaan NPV dan PI yang cukup signifikan.

Faktor Operasional Rumah Sakit yang Memengaruhi PI

PI sebenarnya merupakan hasil akhir dari berbagai asumsi yang terdapat dalam FS.

Jika jumlah pasien meningkat sesuai proyeksi, pendapatan rumah sakit akan meningkat dan cash flow berpotensi meningkat.

Jika BOR meningkat secara sehat, utilisasi fasilitas rumah sakit juga meningkat.

Jika tarif dan komposisi pasien sesuai asumsi, pendapatan dapat mencapai target.

Sebaliknya, apabila jumlah pasien lebih rendah dari proyeksi, biaya obat meningkat, biaya tenaga kerja terlalu tinggi, atau investasi tambahan terlalu besar, maka cash flow dapat turun.

Akibatnya:

«PI juga akan turun.»

Jadi PI bukan angka yang berdiri sendiri.

PI merupakan hasil dari kualitas asumsi bisnis, operasional, dan keuangan yang digunakan dalam FS.

Mengapa PI Sebaiknya Dihitung dengan Beberapa Skenario?

Dalam dunia nyata, tidak ada proyeksi yang benar-benar pasti.

Karena itu, FS rumah sakit sebaiknya tidak hanya membuat satu skenario.

Misalnya dibuat tiga kondisi:

Skenario optimistis, ketika pertumbuhan pasien lebih cepat dan margin lebih baik.

Skenario base case, yaitu skenario yang paling sesuai dengan asumsi utama FS.

Skenario pesimistis, ketika pertumbuhan pasien lebih lambat atau biaya lebih tinggi dari yang diperkirakan.

Kemudian PI dihitung pada masing-masing kondisi tersebut.

Dengan cara ini, investor dapat memahami:

«“Kalau kondisi berjalan sesuai rencana, bagaimana PI-nya?”»

dan:

«“Kalau pasien tidak mencapai target, apa yang terjadi terhadap PI?”»

Ini jauh lebih informatif dibandingkan hanya memberikan satu angka PI.

Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Menggunakan PI

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap PI sebagai persentase keuntungan tahunan.

Misalnya PI sebesar 1,25 kemudian diartikan sebagai keuntungan 25% per tahun.

Itu tidak tepat.

PI sebesar 1,25 berarti nilai sekarang arus kas bersih adalah 1,25 kali investasi awal.

PI bukan berarti investasi menghasilkan keuntungan 25% setiap tahun.

Kesalahan lain adalah menggunakan laba bersih sebagai pengganti cash flow tanpa melakukan penyesuaian yang diperlukan.

Kesalahan berikutnya adalah tidak memasukkan investasi tambahan yang diperlukan selama periode proyeksi.

Dalam proyek rumah sakit, bisa saja pada tahun ke-5 diperlukan tambahan alat kesehatan, renovasi, pengembangan layanan, atau penambahan kapasitas.

Pengeluaran tersebut perlu diperhitungkan dalam model investasi.

Selain itu, investor juga perlu memperhatikan apakah nilai terminal atau nilai sisa aset dimasukkan dalam proyeksi. Jika digunakan, asumsi dan metode perhitungannya harus dijelaskan dengan baik karena dapat memberikan pengaruh besar terhadap hasil akhir PI.

Bagaimana Menyampaikan PI kepada Owner?

Jika owner bertanya:

«“Pak, PI ini sebenarnya maksudnya apa?”»

Kita tidak perlu menjelaskan dengan rumus yang rumit.

Cukup katakan:

«“PI menunjukkan seberapa besar nilai sekarang yang dihasilkan dari setiap rupiah investasi. Kalau PI 1,25, artinya setiap Rp1 yang kita investasikan diproyeksikan menghasilkan Rp1,25 nilai sekarang dari arus kas bersih selama periode analisis.”»

Kemudian tambahkan:

«“Tetapi ini bukan berarti keuntungan kita 25% per tahun. PI adalah ukuran perbandingan nilai investasi, bukan tingkat keuntungan tahunan.”»

Penjelasan sederhana seperti ini biasanya jauh lebih mudah dipahami oleh owner dibandingkan langsung menggunakan istilah finansial.

Kesimpulan

Profitability Index (PI) merupakan salah satu indikator penting dalam Feasibility Study keuangan rumah sakit untuk melihat seberapa besar nilai sekarang dari arus kas bersih yang dihasilkan dibandingkan dengan investasi awal.

Sederhananya:

«PI menjawab pertanyaan: “Dari setiap Rp1 yang saya investasikan, berapa nilai sekarang yang dihasilkan oleh investasi tersebut?”»

Jika PI sebesar 1,25, maka setiap Rp1 investasi menghasilkan Rp1,25 nilai sekarang dari arus kas bersih yang diproyeksikan.

Namun, PI bukan berarti keuntungan 25% per tahun.

Untuk memahami investasi rumah sakit secara menyeluruh, PI sebaiknya dibaca bersama dengan NPV, IRR, ARR, Payback Period, Discounted Payback Period, EBITDA, dan proyeksi cash flow.

Masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda.

NPV membantu menjawab berapa nilai tambah investasi dalam rupiah.

IRR membantu menjawab berapa tingkat pengembalian internal investasi.

ARR membantu melihat tingkat keuntungan dari perspektif akuntansi.

Payback Period membantu melihat berapa lama modal kembali.

Discounted Payback Period melihat berapa lama modal kembali setelah memperhitungkan nilai waktu uang.

Sedangkan:

«Profitability Index membantu melihat seberapa besar nilai sekarang yang dihasilkan dibandingkan dengan modal yang ditanamkan.»

Karena itu, dalam FS rumah sakit, jangan hanya bertanya:

«“Berapa besar labanya?”»

Tetapi juga tanyakan:

«“Berapa modal yang harus ditanamkan?”»

«“Berapa cash flow yang dihasilkan?”»

«“Berapa lama modal kembali?”»

«“Berapa nilai tambah yang dihasilkan?”»

«“Dan setiap Rp1 yang saya investasikan menghasilkan berapa nilai sekarang?”»

Dengan menjawab seluruh pertanyaan tersebut, analisis keuangan dalam FS akan memberikan gambaran yang jauh lebih utuh mengenai kelayakan investasi rumah sakit.

LMI Business Advisory
Empathy in Analysis, Solution in Action.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *